Teknik Mengedit Berita Online UKW 2021





Penyuntingan naskah dilakukan dengan tujuan : (a) Meringkas atau melengkapi, atau menambahi; (b) Menjaga terjadinya kesalahan bahasa seperti ejaan, tata bahasa; (c) Mengubah struktur yakni pilihan fakta yang ‘dipentingkan’ pilihan lead (teras berita), bentuk ending dan lainnya misalnya dalam berita fakta konflik, redaktur menghendaki lead yang bernuansa damai; (d) Mencegah kesalahan isi biasanya masuknya opini pribadi penulis, terutama dalam berita konflik. Disinilah menunjukkan bahwa tugas dan tanggung jawab seorang penyunting berita tidaklah mudah. Satu hal yang tidak boleh dilakukan penyunting adalah  merusak hasil karya penulis sehingga yang harus dia lakukan adalah  memperbaiki dan menyempurnakan.


Dalam melakukan kerja penyutingan, paling tidak ada tiga fokus yang menjadi perhatian yakni judul, teras berita (lead) dan isi berita/tulisan.


Judul Tulisan

Judul tulisan dalam karya jurnalistik sangatlah penting, karena judul merupakan pintu masuk pembaca dalam membuka tulisan. Pemilihan kata yang baik dan menarik satu hal yang harus dilakukan penyuting. Department of Mass Communication University of North Carolina dalam How to Write a Headline mengingatkan bahwa aturan terpenting judul harus benar-benar akurat dan mencerminkan isi berita. Akurasi adalah segalanya. Jangan menipu pembaca dengan judul yang berbeda dengan isi berita!


Judul juga bisa diambil dari teras berita (lead) bagian paragraf pertama dalam tulisan. Untuk kasus judul karya tulis ilmiah populer, judul lazim diambil dari intisari pokok permasalahan yang dikaji oleh penulis. Ada karakteristik judul berita yang harus diperhatikan oleh penyuting, yaitu :


Judul berita adalah kalimat abstrak

Biasanya hanya terdiri dari 5-10 kata

Berupa pemikiran/gagasan lengkap

Terdiri dari subjek dan kata kerja (predikat) dan sering juga dilengkapi objek

Saat membuat judul, tanyalah diri paa sendiri dan jawablah : “Jika pembaca melihat 5-10 kata yang saya tuliskan, apakah mereka akan tahu ini berita tentang apa?”


Untuk membuat judul tulisan maka yang harus dilakukan sebelum membuat judul adalah :


Baca dan pahami berita secara menyeluruh sebelum menuliskan judulnya.

Buatlah judul berdasarkan “main idea” (inti berita) yang mestinya ada di alinea pertama, awal naskah, atau bagian introduksi (lead/teras).

Jangan gunakan dalam judul fakta-fakta yang tidak ada di naskah berita. (Judul harus mencerminkan isi).

Jangan mengulang kata yang sama dalam judul.

Jika beritanya berupa berita opini, maka judulnya pun harus sudah mencerminkan hal itu.

 Hindari ambiguitas, makna ganda, menimbulkan tafsiran beragam, dan bernada menuduh.

Pilihan kata yang spesifik, akurat, jelas, dan ringkas!

Jangan mengulang kata kunci (keywords) di judul yang sama.

Hindari nama, frasa, dan singkatan yang samar atau tidak diketahui.

Hindari judul yang bernada menyerang, mengecam, atau mempersalahkan.

Tidak ada judul yang dimulai dengan kata kerja.

Judul berupa kalimat lengkap –minimal subjek dan predikat.

Pentingnya judul dalam sebuah tulisan tidak hanya dikenal dalam dunia pemberitaan konvensional media massa cetak. Dalam media dot com atau online, pemilihan judul berita menentukan banyak tidaknya pembaca yang membuka tulisan website kita, selain strategi lain yang bisa dilakukan dalam menjaring pembaca. Dalam tulisan web, kinerja mesin pencarian (search engine) menjadi salah satu parameter utama populeritas berita web kita. Jadi, judul berita di media online hendaknya menarik, namun juga memperhatikan teknik SEO (Search Engine Optimization) agar berita diindeks oleh mesin pencari dan mudah ditemukan pembaca di halaman hasil pencarian.


Melihat peran judul sangat strategis sebagai alat jualan berita, sehingga banyak perusahaan media online mengemas tampilan webnya dengan banyak judul bertebaran di setiap sudut halaman depannya. Sementara tulisan selengkapnya disembunyikan dan akan muncul ketika dipanggil, klik ! Namun kendati judul penting tidak kemudian kita terseret praktek jebakan klik dengan membuat judul yang sensasional dan bombastis, bahkan hingga berbohong.


Jebakan klik yakni adalah link (tautan) yang menarik perhatian mata (eyecatching link) di website yang mendorong orang untuk mengklik dan membacanya. Jebakan klik ini lazim dilakukan adsense (iklan online) yang didasarkan pada jumlah klik dan pageviews. Jika kebablasan hal ini akan membuat pembaca bosan bahkan merasa dibohongi.


Tips dan teknik pemilihan judul berita ini berlaku juga dalam melakukan penyutingan judul karya ilmiah populer (artikel). Berbeda dengan penulisan karya ilmiah akademik harus memiliki kriteria dan standarisasi penulisan tersendiri.


Teras Berita (Lead)

Setelah judul, teras berita (lead) merupakan alat penggoda berikutnya agar mata pembaca tidak pindah ke lain obyek. Pentingnya teras berita dalam memikat pembaca harus menjadi perhatian bagi penyunting tulisan. Jika naskah awal tulisan teras beritanya belum menjual, menarik atau memikat untuk dibaca, maka tugas editor dalam memperbaiki dan menghaluskan bahan naskah tulisan.


Teras berita berada pada posisi paragraf pertama tulisan. Dalam berita langsung (straight news), pola penulisan lead dengan rumusan 5 W + 1 H (what, who, when, where, why dan how). Rumusan lead tersebut bisa dikembangkan dalam dua model penulisan teras berita yakni dari awalan siapa (who) dan apa (what). Who menunjuk kepada subyek yang terlibat dari peristiwa tersebut. Lead who biasanya digunakan karena pentingnya subyek tersebut dalam pemberitaannya. Sedangkan model lead what lebih berpaku pada apa peristiwa yang terjadi.    Pola rumusannya bisa divariasikan sebagai berikut :


untuk teras berita Who :

who, what, when, where

who, what, when

who, what, where

untuk teras berita What :

what, who, where, when

what, who, where

what, who, when

Proses penyutingan berita dengan pendekatan lead ini lebih mudah dan sederhana. Struktur tulisannya seperti piramida terbalik, semakin ke bawah tulisannya semakin tidak penting dan atau menarik. Perhatikan gambar dibawah ini :




Pola ini perlu diperhatlkan karena karya jurnalistik selain menarik juga harus segera disampaikan dan cepat dibaca. Keuntugan pola penulisan ini jika pembaca tidak cukup waktu untuk membaca maka cukup singkat baca leadnya saja.


2. Isi Berita/Tulisan


Kegiatan penyutingan berikutnya yang perlu diperhatikan adalah isi berita/tulisan. Proses penyutingan tidak hanya berpaku pada koreksi atau pembenaran salah ketik huruf, kata, tanda baca atau ejaan. Tetapi proses koreksi, pembenaran, penghalusan bahasa, keragaman kosa kata, diksi, struktur dan sistematika tulisan sehingga mudah dan enak dibaca oleh masyarakat. Terkait topik ini, Wahyu Wibowo (2002) memberikan langkah jitu agar tulisan kita makin hidup dan enak dibaca.


Beberapa langkah jitu tersebut misalnya, bacalah keseluruhan tulisan, lalu lihatlah relasi kalimatnya. Membaca keseluruhan tulisan untuk melihat rangkaian kalimat dalam posisinya sebagai pembentuk kalimat. Prinsip keindahan tulisan menurut Wahyu harus mengandung kesatuan dan keutuhan. Menimbang segala sesuatunya secara obyektif, matang dan logis. Selain itu tulisan harus mengandung satu pikiran utama yang jelas dan mengandung prinsip perkembangan, pemilihan kata yang baik, ejaan yang santun dan kalimat yang jelas.


Pemilihan kata dan kalimat menjadi sorotan utama si penyunting. Pasalnya penyutingan tulisan jurnalistik memiliki aspek kebahasanaan yang berbeda. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Namun demikian, bahasa jurnalistik tidak mengabaikan bahasa baku yang sudah ditetapkan. Pengarang Amerika Ernest Hemingway, pemenang Nobel dan Pulitzer (Rosihan, 2004) memberikan rambu-rambu dalam menulis jurnalistik, yaitu :


Gunakan kalimat-kalimat pendek

Gunakan bahasa yang mudah dipahami orang.

Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya.

Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.

Hindari pemakaian kalimat pasir, gunakan kalimat aktif.

Pilihlah pemakaian kata yang kuat dan padat.

Gunakan bahasa positif, bukan negatif.

Selain rambu-rambu di atas dalam melakukan penulisan, juga perlu dipehatikan dalam proses penyutingan sisi bahasanya, antara lain ejaan, singkatan, tanda baca, pilihan kata (kosa kata dan diksi), keefektifan kalimat dan  keterpaduan paragrap. Dari sisi ejaan maka yang perlu diperhatikan seperti penulisan huruf, penulisan kata, penulisan angka  dan lambing bilangan, lalu penggunaan tanda baca dan penulisan usur serapan. Sedangkan untuk keefektifan kalimat harus meliputi kelogisan ketunggalan makna, kebakuan kata, keefisienan dan kesesuaian pada kaidah tata tulis.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyutingan adalah :


Baca seluruh tulisan dari awal sampai akhir untuk memilah topik, tema, alur dan kesalahan tulisan, ejaan dan tanda baca.

Topik yang berserakan di setiap paragraf harus dikelompokkan (kategorisasi) kemudian dijadikan satu alur yang sama.

Jika ada istilah, akronim atau singkatan maka uraikan secara jelas maksud dan makna tulisan tersebut.

Gunakan kata penunjuk ini dan itu untuk merunjuk kalimat sebelumnya. Atau memakai kata ganti ia, dia, -nya atau mereka, untuk merujuk pada seseorang yang telah disebutkan sebelumnya.

Memilih kata sambung (konjungsi) sebagai alat penghubung intrakalimat dan antarkalimat. Fungsinya selain untuk mempertegas, juga untuk mempermadukan makna.

Jika diperlukan pakailah pengulangan kata untuk menekankan atau menonjolkan gagasan utama dalam kalimat. Contohnya, Jawa Barat Kahiji. Jawa Barat berubah. Jawa Barat berliterasi.

Penggunaan sinonim atau sebutan lain sebagai penghubung kalimat. Misalnya, Gubernur Jawa Barat sangat mendukung gerakan literasi di wilayahnya. Putera asli Sukabumi ini memperintahkan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mencetak penggerak literasi di daerah-daerah.

Menghubungkan kalimat satu dengan lainnya dengan cara membangun kesamaan topik. Contohnya, ….menanggulangi banjir. ….mengatasi bencana alam tersebut.

Memolototi baris demi baris mengedit ejaan, tanda baca, mengutip pendapat langsung dan tidak langsung serta menulis nama nara sumber.

Hindari penggunaan kata-kata klise dan atau yang sering diulang-ulang.

Padatkan panjang tulisan sesuai data dan fakta dalam isi berita/tulisan. Panjang tulisan tidak lebih dari 5-10 paragraf. Jika tetap panjang dan menarik, maka bahan tulisan displit (dipisah) dalam berita/tulisan terpisah dengan judul yang berbeda namun topiknya sama.

Panjang tulisan karya jurnalistik di media massa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Panjang tulisan berita jurnalistik sedikitnya  1 paragraf dan paling banyak 10 paragraf, atau menyesuaikan data dan fakta yang menarik. Kemudian jumlah baris setiap paragraf tidak lebih dari lima baris. Jika tetap terlalu panjang, jumlah baris “dipaksakan” untuk diseplit atau dipisah dalam paragraf berikutnya. Harus diakui memang untuk menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas tidak hanya bergantung pada kemampuan editing. Tetapi diawali melalui proses menemukan gagasan, mengumpulkan bahan, data, fakta dan informasi, gaya penulisan dan terakhir proses penyutingn. Hal tidak mungkin proses akhir penyutingan akan berakhir bagus tanpa data, fakta dan gaya bahasa yang memadai dalam tulisan tersebut.


** Afridon


 

Posting Komentar

0 Komentar